Mengapa Rasisme Menyebalkan?

Mengapa Rasisme Menyebalkan?

Rasisme, rasis, isu rasial dan sinonim lainnya memang menjadi hal yang sangat menyebalkan sejak awal mula kemunculannya. Pengelompokan suatu ras sebagai sesuatu yang berbeda dengan ras lainnya sudah hadir dimuka bumi ini sejak lama. Tipikal manusia yang selalu menganggap diriya jauh lebih baik dan menguasai segalanya menjadi cikal bakal kemunculan hal yang menyebalkan ini. Sudah mewabah bak budaya yang diturunkan secara teratur. Dengan dalih super power ataupun dominasi kekuatan pada suatu ras yang lebih unggul menjadikan hal ini semakin kompleks dan menjadi sesuatu yang tidak dapat terselesaikan hingga detik ini. Tapi rupanya agar lebih bijak memahami isu ini lebih baik kita memahami dengan betul apa perbedaan ras dan etnis, rasisme itu sendiri dan hal lainnya.

 

Perbedaan Ras dan Etnis.

Ras dan etnis memang sudah menjadi kata yang sangat lazim dalam memahami perbedaan kelompok antara manusia satu dengan yang lainnya. Tetapi hal ini rupanya menjadi sangat tabu ketika kita tidak memahami perbedaanya. Kata rasis selalu dikaitkan dengan segala sesuatu yang jauh dari arti nya sendiri. Menurut Nina Jablonski, seorang antropolog dan palaebiologis dari Pennsylvania State University yang dilansir dari Live Science, Minggu (9/2/2020), ras adalah gabungan dari atribut fisik, perilaku, dan kultural. Maka dapat disimpulkan bahwa ras merupakan “bawaan biologis” yang diturunkan secara continuity dalam jangka waktu yang panjang.

 

Kata ras ini pun lahir sebuah ide yang diprakarsai oleh para antropolog dan filsuf pada abad ke-18, yang menitik beratkan lokasi geografis untuk membedakan warna kulit dan mengelompokkannya dalam satu kelompok tertentu. Pengelompokan ini juga berdasarkan bawaan biologis lintas generasi. Namun, dampak buruk dari pengelompokan ini adalah ketidakseimbangan pemahaman yang berlaku secara global. Salah satu contohnya adalah orang Eropa yang berkulit putih dianggap lebih superior dibanding mereka yang berkulit hitam dan kulit berwarna lainnya. Sudut pandang dalam memperlakukan orang yang memiliki kulit berwarna putih lebih istimewa dibanding orang dengan warna kulit lainnya merupakan mimpi buruk panjang dari sejarah, kapitalisme, dan tindak diskriminasi yang hingga detik ini selalu menghantui khalayak luas.

 

Sementara etnis menekankan perbedaan antar-manusia berdasarkan bahasa dan budaya. Etnis merupakan sesuatu yang muncul seiring perjalanan hidup seseorang, misal di mana kita tumbuh besar dan kondisi lingkungan sekitar. Jika ras adalah ciri dari seseorang yang mayoritas dilihat dalam fisik, lain halnya dengan etnis. Etnis bisa dipilih oleh orang yang bersangkutan. Karena menyangkut banyak hal mulai dari bahasa, asal negara, budaya, dan agama, etnis bisa membuat seseorang memiliki beberapa identitas sekaligus.

 

Beberapa perbedaan yang lebih mendalam adalah dimana secara umum, ras adalah pembeda populasi yang dilihat dari segi biologis dan faktanya dalam beberapa penelitian manusia hanya memiliki satu ras yaitu ras manusia dan hal itu tidak mengartikan bahwa DNA kita berbeda antar satu sama lain. Penurut hasil penelitian, dua DNA dari manusia yang acak hanya memiliki perbedaan kurang dari 0,1 persen. Karena perbedaan itu tidak kuat, peneliti mendeskripsikan manusia hanya memiliki satu ras, yaitu ras manusia.

 

Walaupun sangat berkaitan, rupanya ras dan etnis memiliki perbedaan tertentu, oleh karena itu kita harus lebih pandai lagi memahami perbedaan ini dalam menindak isu rasisme yang ada di dunia ini, lalu apa itu rasisme? Dan mengapa rasisme menjadi momok bagi khalayak luas?

 

Apa Itu Rasisme?

Secara harfiah, dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) rasisme adalah paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat. Rasisme adalah paham diskriminasi suku, agama, ras, adat (SARA), golongan ataupun ciri-ciri fisik umum untuk tujuan tertentu yang ditinjau dari sudut pandang biologis.

 

Rekam jejak rasisme sendiri tidak dapat dipisahkan dari perkembangan peristiwa supremasi kulit putih yang menjadi cikal bakal maraknya rasisme di berbagai belahan dunia. Abad ke-15 menjadi akar dan awal mula rasisme berkembang biak secara sporadis ketika Portugis mulai memanfaatkan keterbatasan masyarakat Afrika untuk dijadikan budak di luar wilayah tersebut pada saat itu, pada masa inilah awal proses dari terjadinya perbudakan jutaan rakyat Afrika di Amerika dan Eropa. Alasan dari terjadinya penegakan supremasi kulit putih didasari oleh tiga faktor: kebutuhan akan pekerja yang murah, keinginan untuk melakukan kontrol sosial, dan ketakutan terjadinya pemberontakan.

 

Para elite kulit putih Eropa sering menggunakan pandangan ini sebagai dasar kebijakan mereka yang imperialis, kolonialis, dan rasis demi mempertahankan klaim yang menyatakan bahwa mereka lebih unggul secara budaya dan biologis. Pandangan ini menghasilkan kolonisasi dunia oleh orang-orang kulit putih Eropa, perbudakan terhadap orang-orang dari benua Afrika di tanah air mereka sendiri, di tempat lain, dan di Amerika, serta Sosialisme Nasional Jerman oleh Nazi, yang baru terjadi di Eropa 75 tahun yang lalu.

 

Rasisme dapat didefinisikan sebagai sekumpulan ide dan keyakinan yang memiliki potensi untuk menyebabkan seseorang membentuk prasangka buruk yang pada akhirnya membawa pada perilaku negatif terhadap kelompok masyarakat tertentu. Secara sederhana, ide dan keyakinan yang salah dapat pula membentuk prasangka buruk, prasangka buruk yang muncul tersebut kemudian menghasilkan perilaku negatif yaitu diskriminasi dan diskriminasi adalah produk pemikiran manusia yang berakar dari suatu kesalahan. Prasangka buruk hadir untuk meningkatkan citra diri dari seorang individual atau kelompok. Individu atau kelompok yang memiliki sisi buruk ini akan menganggap rendah kelompok lain secara emosional akan menghasilkan prasangka bahwa ia lebih baik dari orang atau kelompok lain. Ketika suatu individu atau kelompok merasa jauh lebih baik dari kelompok yang lain maka secara alamiah ia akan memiliki persepsi bahwa ia berhak untuk memimpin atau mendominasi orang atau kelompok lain.

Tidak sedikit para penganut paham super power selalu meyakini bahwa ke aslian ras adalah sesuatu yang mutlak dan patut dijaga kemurnian nya. Supremasi kulit putih yang selalu menjadikan hal ini sebagai senjata bagi mereka rupanya mendapatkan bantahan yang sangat jelas dari Dr Adam Rutherford, seorang ahli genetika dan presenter BBC. Kami menganggap wilayah, tanah, atau masyarakat tertentu sebagai bagian yang terisolir, baik secara fisik maupun budaya dan batas-batas ini tidak dapat diatasi. Tapi ini bukan yang dikatakan sejarah, atau genetika. Faktanya, tidak ada bangsa yang statis "Orang-orang di seluruh dunia bergerak sepanjang sejarah, dan melakukan hubungan seks kapan saja dan di mana saja mereka bisa," kata Dr Rutherford. Terkadang ini adalah langkah besar dalam waktu singkat. Kerap kali, mayoritas orang-orang itu statis selama beberapa generasi dan itu bisa terasa seperti jangkar geografis dan budaya. "Namun demikian, setiap Nazi memiliki leluhur Yahudi," ujar Dr Rutherford, "Setiap supremasi kulit putih memiliki leluhur Timur Tengah. Setiap rasis memiliki leluhur Afrika, India, Asia Timur, dan seperti halnya orang lain.""Kemurnian ras adalah fantasi murni. Bagi manusia, tidak ada darah murni," ujar ahli genetika dan presenter BBC.

 

Prasangka atau juga prejudice merupakan akar dari segala bentuk rasisme. Prasangka adalah pandangan yang buruk terhadap individu atau kelompok manusia lain dengan hanya merujuk kepada ciri-ciri tertentu seperti ras, agama, pekerjaan atau kelas. Diskriminasi dan prasangka adalah dua hal yang saling menguatkan. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi dalam melanggengkan bentuk diskriminasi, sedangkan diskriminasi adalah hal yang seringkali membawa ancaman. Dalam suasana prasangka dan diskriminasi tidak ada tempat bagi toleransi dan keterbukaan.

Gayung bersambut, rupanya menjadi warisan dan mimpi buruk berkepanjangan hingga saat ini. Rasisme menyeruak bagai hantaman air yang tak dapat dibendung dan mengalir deras tanpa henti. Kebodohan ini terus menjalar dan menular tanpa henti pada regenerasi yang sengaja mereka doktrin untuk keberlangsungan kepentingan produk politik ini. Rasisme sering dijumpai dalam berbagai kegiatan. Diskriminasi terhadap suatu ras tertentu menjadi hal dianggap superior atau menjadi sesuatu yang membanggakan, tapi ini adalah hal yang memang seharusnya dihentikan walaupun sangat amat sulit dalam menghentikan arus kebodohan ini.

 

Rasisme Dalam Sepak Bola

Salah satu kegiatan yang seringkali digunakan oleh para kaum yang belum menyadari akan hal ini adalah sepakbola. Dari awal kemunculannya, olahraga yang satu ini menjadi sesuatu yang banyak digemari oleh khalayak luas dan menjadi hiburan bagi masyarakat luas. Hal inilah yang menjadikan para penganut paham super power menjadikan sepakbola untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam melangsungkan kampanye yang mereka yakini. Seperti apa yang terjadi di Italia, ketika Benito Mussolini memanfaatkan hiburan rakyat menjadi salah satu alat kampanye gerakan fasis pada saat itu. Tetapi rupanya kita terlalu terbuai pada kasus diskriminasi ras yang ada diluar negeri sampai kita melupakan masalah besar mengenai isu ras yang ada di negara kita sendiri.

 

Diskriminasi ras bukanlah hal baru yang hadir dalam dunia sepakbola Indonesia. Beberapa tindakan tidak terpuji seringkali dilakukan oleh kelompok suporter yang secara gamblang mencela pemain tim lawan dengan isu-isu rasial yang mereka lakukan. Pemain yang memiliki warna kulit lebih gelap sering mendapatkan diskriminasi baik secara verbal maupun non-verbal. Jelas hal ini menjadi sesuatu yang sangat menjijikan ketika kita mengingat Indonesia adalah negara yang multikultural.

Tidak berhenti sampai disitu, prasangka buruk dan cacian yang berbentuk provokasi pada suatu ras dan suku sering dijumpai dalam permainan yang indah ini. Ejekan yang diutarakan oleh para kelompok suporter ini memang dirasa sangat amat tidak pantas dilakukan. Pemain berkulit gelap seringkali mendapatkan ejekan seperti teriakan yang menirukan suara monyet, mendapat julukan monyet dan lemparan pisang ke arah pemain tersebut. Saat sekelompok suporter menyebut pemain lawan dengan sebutan kera, monyet, atau anjing, mereka bukannya menyamakan pemain tersebut akan tetapi, sebutan ini menyampaikan makna bahwa orang tersebut dianggap lebih rendah derajatnya. Singkatnya, metafor binatang yang menghina ada yang merendahkan dan ada juga yang menjijikkan, dan ini bukanlah bentuk kekecewaan atau teror tim lawan yang elegan.

 

Hal memalukan lainnya juga sering dilakukan oleh beberapa kelompok suporter di dunia maya yang akhirnya membuka pikiran banyak orang, ternyata benar, semakin maju nya teknologi, tidak berjalan secara beriringan dengan berkembangnya pola pikir manusia dan kelompok tertentu. Ejekan dan jokes yang berbau diskriminasi ras dan etnis masih sering dijumpai di media sosial dewasa ini. Seperti yang sering terjadi belakangan ini "keyboard warrior" mereka bertindak bak pahlawan bagi tim kebangaan nya yang ternyata secara langsung membuat mereka terlihat bodoh, memiliki pemikiran sempit dan selera humor yang dangkal, karena sejatinya ras dan etnis yang dimiliki seseorang bukanlah hal yang layak untuk ditertawakan dan dijadikan guyonan, sekali lagi, ini adalah bentuk kebodohan manusia dalam perkembangan zaman di era ini.

 

Hal ini biasanya terjadi karena pemain lawan terlihat lebih dari pemain lainnya dan memiliki perbedaan warna kulit, hanya itu saja, tidak lebih. Tetapi balasan dan teror pemain lawan dengan cara memaki pemain tersebut yang diutarakan oleh para suporter rupanya tidak tepat, ujaran kebencian yang memiliki unsur rasisme menjadi sesuatu yang sangat menjijikan dan sangat tidak layak bagi permainan yang menjunjung tinggi sportifitas dan sisi kemanusiaan ini. Rasisme bukanlah hal yang elegan dalam ranah sepakbola dan hal apapun yang ada di dunia ini. Ketika semakin membesar dan mengakar, akan menjadi ladang subur bagi para pelaku rasisme dengan segala dalih pembenaran yang mereka utarakan di kemudian hari. Jika kita membiarkan dan menganggap hal ini menjadi hal yang sepele, maka rasisme akan mudah muncul di mana saja dan kapan saja. Ini tak hanya bermasalah dengan prinsip sportifitas, namun juga bagi kehidupan masyarakat yang majemuk dan beragam. Rasisme dan ujaran kebencian juga bisa dibaca sebagai akibat absennya penghargaan atas peran penting akal budi dan basis moralitas pada kelompok suporter.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? mulai dari diri kamu sendiri, jangan selalu mengikuti instruksi yang diperintahkan oleh federasi sepak bola, lupakan federasi dengan tumpukan dosa besar yang mereka emban dan lakukan perlawanan terhadap segala tindak diskriminasi ras dimanapun kalian berada, semua dimulai dari diri kita sendiri. Ras dan etnis sama sekali tidak memengaruhi tingkat kecerdasan atau kebaikan lainnya. Ras dan etnis hanyalah sebuah konsep untuk membedakan manusia berdasarkan ciri lahiriah. Setiap manusia, apa pun warna kulit dan ciri fisiknya, hanya memiliki perbedaan DNA hingga 0,01%. Jika manusia itu sama dan setara, mengapa masih bertindak superior dengan cara menjadi rasis? There is no place for racism, kick out!

 

Penulis: Rifqi Maulana

Your Cart

Your cart is currently empty.
Click here to continue shopping.